Penanggulangan Bencana
Upaya BPBD Kabupaten Bengkalis, Dalam Penanggulangan Bencana
Ja'afar Arief, Kepala BPBD Kab.Bengkali***
MEDIATRANSNEWS, BENGKALIS - Wilayah Pemerintah Kabupaten Bengkalis, yang jumlah Kecamatan mencapai 11 daerah, yakni mulai dari Kecamatan Bengkalis, Bantan (di Pulau Bengkalis), Kecamatan Bukit Batu, Siak Kecil, Mandau, Pinggir, Bandar Laksamana, Bathin Solapan, Talang Muandau (di Pulau Sumatera), dan Kecamatan Rupat Selatan, Rupat Utara (di Pulau Rupat).
Merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Riau, Indonesia, yang wilayahnya mencakup daratan bagian timur Pulau Sumatera dan wilayah kepulauan, dengan luas adalah 7.793,93 km².
Merupakan struktur wilayah tanahnya mayoritas bergambut dan mayoritas dataran rendah, sehingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkalis, terus berkomitmen meningkatkan pelayanan kepada masyarakat pada setiap waktu, untuk mengantisipasi berbagai bencana yang seringkali terjadi dengan tiba-tiba. Meskipun sebagaian memang sudah diantisipasi pihak BPBD Kabupaten Bengkalis, sebelum terjadi bencana di Daerah Kabupaten Bengkalis tersebut.
Oleh karena itu, dengan kondisi kewilayahan Kabupaten Bengkalis yang berpulau-pulau tersebut, membuat BPBD Kabupaten Bengkalis terus melakukan pembenahan dan pembinaan terhadap petugas lapangan, dalam memenuhi pelayanan kepada masyarakat, untuk meningkat kemampuan dalam menanggulangi bencara pada setiap musim penghujan dan musim panas.
Disebabkan Daerah Wilayah Kabupaten Bengkalis, mayoritas posisi di pesisir adalah daerah dataran rendah, apabila datangnya musim penghujan, maka akan terjadi banjir. Demikian juga struktur tanahnya yang bergambut, maka apabila musim panas, akan mudah terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Menanggapi hal ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkalis, Ja'afar Arief mengatakan, bahwa meski seluruh petugas lapangan yang merupakan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Bengkalis berjumlah 30 orang, namun pihaknya akan tetap terus melakukan pembinaan memampuan dalam meningkat skil mereka dalam melakukan operasional ketika terjadi bencana.
Disebabkan Daerah Wilayah Kabupaten Bengkalis, mayoritas posisi di pesisir adalah daerah dataran rendah, apabila datangnya musim penghujan, maka akan terjadi banjir. Demikian juga struktur tanahnya yang bergambut, maka apabila musim panas, akan mudah terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Menanggapi hal ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bengkalis, Ja'afar Arief mengatakan, bahwa meski seluruh petugas lapangan yang merupakan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Bengkalis berjumlah 30 orang, namun pihaknya akan tetap terus melakukan pembinaan memampuan dalam meningkat skil mereka dalam melakukan operasional ketika terjadi bencana.
Bahkan, menurut Mantan Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bengkalis ini, bahwa mereka (Petugas BPBD), juga sudah stanbay di Pos sebagai bentuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, agar apabila suatu saat nanti dengan tiba-tiba terjadi bencana di suatu daerah, maka mereka segera dapat turun ke lapangan untuk menanggulanginya, dan juga untuk lebih memaksimalkan dalam menimimalisir terjadi korban dan hilangnya harta benda.
"Memang petugas yang telah kita sediakan terjun ke lapangan tersebut ada 30 orang dengan kondisi dan situasi wilayah Kabupaten Bengkalis yang seperti itu. Sedangkan petugas kita yang memberikan informasi kepada 30 petugas lapangan terkait terjadinya bencana di suatu daerah wilayah Kabupaten Bengkalis, ada 18 orang, yang kini sudah berada di seluruh Kecamatan di Kabupaten Bengkalis, "terang Ja'afar Arief, Senin (28/05/18). Dijelaskan, untuk menanggulangi bencana di Kabupaten Bengkalis dengan jumlah 30 petugas tersebut, diakuinya memang belum sepadan dengan lokasi Daerah di Kabupaten Bengkalis yang berpulau-pulau. Namun dia sampaikan akan tetap memaksimalkan kinerja dalam penanggulangan bencana, bekerjama dengan Basarnas, Pemerintahan Desa, pihak Kepolisian, TNI dan aparatur negara terkait.

"Artinya, kita dari Aparatur Kepemerintahan Kabupaten Bengkalis, dalam mengulangi bencara tersebut, tetap terus melakukan koordinasi dan kerjasama kepada beberapa pihak, yang tujuannya agar bencana tersebut, apabila terjadi segera dapat ditanggulangi untuk menimimalisir terjadinya korban, "ungkap Ja'afar.
Diakuinya, 30 petugas BPDB Kabupaten Bengkalis tersebut, skil kemampuan semuanya masih pengetahuan dasar, namun apabila terjadi bencana, pihaknya sudah menyediakan tiga orang yang sudah ahli dalam menanggulangi bencana alam, yang kini ketiga orang tersebut bertugas di Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bengkalis. Namun apabila BPBD membutuhkan tenaganya, mereka siap untuk terjun ke lapangan.
Diakuinya, 30 petugas BPDB Kabupaten Bengkalis tersebut, skil kemampuan semuanya masih pengetahuan dasar, namun apabila terjadi bencana, pihaknya sudah menyediakan tiga orang yang sudah ahli dalam menanggulangi bencana alam, yang kini ketiga orang tersebut bertugas di Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bengkalis. Namun apabila BPBD membutuhkan tenaganya, mereka siap untuk terjun ke lapangan.
"Jadi ketiga orang yang kini masih bertugas di Dinas Damkar tersebut, apabila kita dari BPBD membutuhkan tenaganya, mereka telah menyatakan siap untuk turun ke lapangan membatu kita. Sehingga meski 30 petugas lapangan BPBD, hanya masih punya kemampuan dasar, kita sudah tidak khawatir lagi, dalam melakukan penanggulangan bencana di wilayah Kabupaten Bengkalis, "terangnya.
Menurut Ja'afar, ketiga orang yang kini masih bertugas di Dinas Damkar Kabupaten Bengkalis tersebut, memang kemampuan mereka sudah tidak bisa diragukan lagi, karena ketiga orang tersebut benar-benar mempunyai keahlian dalam menanggulangi bencana.
Mereka sudah mengikuti pendidikan dan pelatihan di darat, laut dan udara, dan ketiganya juga sudah mengantongi
sertifikat. Terkait petugas BPBP Kabupaten Bengkalis berjumlah 30 orang tersebut, hingga kini hanya masih mempunyai kemampuan dasar, Ja'afar mengatakan, bahwa di tahun 2018 ini, 30 petugas tersebut, akan di didik untuk melakukan pelatihan dalam menanggulangi di Jakarta, dengan sistem berkala.


"Memang di tahun 2018 ini, secara berkala kita akan memberikan pelatihan kepada meraka di Jakarta, karena memang tempat pelatihan meningkat skil dan keterampilan dalam menanggulangi mencana, tempatnya hanya di Jakarta, makanya di tahun ini, sebagian dari mereka akan mengikuti pelatihan disana, dan di tahun berikutnya sebagian lagi kita kirim ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan dalam pengulangan bencana, "ungkap Ja'afar. Menurutnya, petugas BPBD Kabupaten Bengkalis berjumlah 30 orang, memang belum memadai jumlahnya dengan kewilayahan Kabupaten Bengkalis yang berpulau-pulau. Sehingga Jakfar mengaku pada awalnya telah mengusulkan ke Pemerintah Kabupaten Bengkalis di tahun 2018, agar bisa menambah petugas BPBD. Namun karena anggaran APBD tahun 2018 ini diprediksi akan terjadi rasionaliasai, maka dimungkinkan usulan penambahan personil BPBD tidak akan terpenuhi di tahun ini.
"Kita sadar, jumlah Personil kita msih minim jika dibandingkan dengan wilayah Kabupaten Bengkalis yang berpulau-pulau. Oleh karena itu, pada awalnya kita memang sudah mengusulkan ke Pemerintah kabupaten Bengkalis, bahwa mulai tahun 2018 ini, agar ada penambahan Personil
kita.
Tapi karena di tahun ini akan terjadi rasionalisasi anggaran, kemungkinan besar usulan penambahan personil BPBD tidak bisa terpenuhi. Namun tetap akan kita coba di tahun berikutnya (2019), agar jumlah personil ada penambahan, yang sebelumnya hanya 30 orang saja petugas di lapangan, "ungkapnya lagi.
Ja'afar menjelaskan, catatan di BPBD Kabupaten Bengkalis, bahwa bencana di Kabupaten Bengkalis diantaranya banjir, puting beliung, Kebakaran Hutan dan Lahan ( Karhutla), abrasi, bencana di tengah laut (angin topan). Sedang gempa dan tanah longsor tidak ada.
"Jadi, untuk bencana banjir itu mayoritas di beberapa titik di Kabupaten Bengkalis, karena struktur tanah dataran rendah, Sedangkan untuk angin puting beliung juga sering terjadi, dan waktunya tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi. Untuk Karhutla sendiri memang menjadi dominan bencana di Kabupaten Bengkalis, karena struktur tanah yang bergambut, "terang dia lagi.

Selanjutnya, bencana abrasi terjadi di Pulau Rupat, yakni Kecamatan Rupat Selatan dan Rupat Utara. Lalu abrasi juga terjadi di Pulau Bengkalis, yakni di Kecamatan Bengkalis dan Kecamatan Bantan, dan yang terakhir abrasi terjadi di Kecamatan Bandar Laksamana. Bahkan kalau di Pulau Rupat, bencana abrasi ini sampai ada korban rumah ikut longsor masuk kedalam laut.
"Lalu, bencana di tengah laut berupa angin topan, terjadi di Perairan Pulau Bengkalis dan Perairan Pulau Rupat. Kalau di Perairan Pulau Rupat angin topan dengan nama "musim barat', sedangkan bencana di tengah laut berada di tengah laut Perairan di Pulau Bengkalis dinamakan "musim utara" ,imbuh dia lagi.
Sementara itu, jelas Ja'afar, bencana Karhutla sendiri sesuai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG), khusus di Provinsi Riau, termasuk di Kabupaten Bengkalis, sampai kini masih status siaga posko Karhutla hingga sampai 30 November 2018, karena dilihat dari cuaca panas yang masih terus terjadi di Provinsi Riau.
"Dan meskipun petugas lapangan BPBD Kabupaten Bengkalis berjumlah 30 orang tersebut, sampai kini masih mempunyai pengetahuan dasar, namun ketika dilakukan perlombaan dalam Pekan Resiko Bencana Provinsi Riau tahun 2018 kemarin, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Bengkalis mendapatkan juara ke 3, dari 12 peserta yang merupakan perwakilan kabupaten/kota se- Provinsi Riau, "beber Ja'afar menjelaskan.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Bengkalis, Abdul Kadir berharap seluruh Petugas BPBD Kabupaten Bengkalis, dalam
menangani berbagai bencana, selain untuk tetap siaga di Posko, juga harus mempunyai Safety keselamatan yang memadai, agar ketika melakukan penyelamatan terhadap korban, petugas juga tetap terjaga keselamatannya.
"Dalam pengulangan bencana di Kabupaten Bengkalis ini, tidak hanya petugas BPBD saja yang bertanggungjawab dalam menanganinya, namun juga setiap masyarakat di Kabupaten Bengkalis, termasuk Pemerintahan Desa se-Kabupaten Bengkalis, juga tetap harus berperan serta dalam melakukan penanggulangan bencana di Kabupaten Bengkalis, "ujar Abdul Kadir.

Politisi PAN ini juga sampaikan, bahwa bencana merupakan urusan vital yang memang harus dipikirkan bersama-sama oleh semua pihak dari seluruh lapisan masyarakat yang paling bawah sekalipun. Karena ketika bencana itu terjadi, yang akan tertimpa bencana, juga tidak pandang bulu kepada siapapun dan dimanapun.
"Oleh karena itu, kita berharap kepada seluruh masyarakat, untuk memberi dukungan sepenuhnya kepada petugas BPBD Kabupaten Bengkalis, ketika pada saat melakukan penyelamatan kepada korban ataupun menyelamatkan harta benda pada saat bencana itu terjadi. Dan masyarakat juga kita minta untuk membantu petugas-petugas tersebut, apabila membutuhkan berbagai hal yang mereka perlukan, pada saat melakukan penyelamatan, "pinta Kadir lagi.
Disisi lain, Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Bengkalis, Zainuddin ketika dihubungi berharap, dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Bengkalis, harus tetap sinergi dari seluruh lapisan masyarakat. Karena peristiwa bencana terjadi itu, tidak bisa diprediksi sebelumnya.
"Oleh karena itu, kita berharap kepada seluruh masyarakat, untuk memberi dukungan sepenuhnya kepada petugas BPBD Kabupaten Bengkalis, ketika pada saat melakukan penyelamatan kepada korban ataupun menyelamatkan harta benda pada saat bencana itu terjadi. Dan masyarakat juga kita minta untuk membantu petugas-petugas tersebut, apabila membutuhkan berbagai hal yang mereka perlukan, pada saat melakukan penyelamatan, "pinta Kadir lagi.
Disisi lain, Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Bengkalis, Zainuddin ketika dihubungi berharap, dalam penanggulangan bencana di Kabupaten Bengkalis, harus tetap sinergi dari seluruh lapisan masyarakat. Karena peristiwa bencana terjadi itu, tidak bisa diprediksi sebelumnya.
"Selain itu harapan kita LAMR, mari kita sama-sama menjaga lingkungan kita masing-masing, agar bisa meminimalisir timbulnya bencana, yang seringkali hal itu terjadi, karena disebabkan keteledoran kita diwilayah masing-masing.
Seperti contoh, jangan buang sampah sembarangan, karena sampah bisa menyumbat saluran air dan menimbulkan benaca banjir apabila terjadi hujan, dan sampah juga bisa menimbulkan berbagai penyakit, yang bisa menimbulkan bencana wabah penyakit, "terang Zaenuddin (ADVERTORIAL/Pemkab Bengkalis)***
TERKAIT



Tulis Komentar