Follow:     Serikat Perusahaan Pers
Jum'at, 24 Januari 2020
INDEX BERITA

Tiga Terkena Banjir Puluhan Hektar Lahan Petani Terendam
Speed Boat Angkut 19 TKI dari Rupat Ke Malaysia Karam
Gugatan Ke LAMR Bengkalis Berakhir Sudah
Jalan Akses Menuju SDN 3 Bandar Agung Terendam Banjir
Sertijab Kejari Lampura Berjalan Hidmat
Ratusan Ketua RT Dan RW Demo Di Kantor Wali Kota Pekanbaru
MKKS Gelar Rapat Perdana DI SMP PRIMA Kotabumi
Kapolsek Perhentian Raja Dan TNI Serta Satpol PP Kab.Kampar Turun Gunung
Ketua DPRD Riau Eet Minta BNN Riau Dites Urine Para Kepala Daerah
Kejari Lampura Kunjungi Kantor PD-IWO
Sudah 3 Tahun Jembatan Kotabumi Tengah Barat Rusak
28 Desa Akan Gelar Pilkades Serentak
DPD LAN Riau Dan Beberapa DPC LAN Se Riau Segera Dilantik
Instruksi DPRD Ke Bupati Amril Soal Peredaran Narkoba
Kapolsek Perhetian Raja Tangkap Pelaku Pengeroyokan
Nikmati Sabu, Oknum Satpol PP Digrebek Polisi
Jafar Mantan Kades Bukit Batu Ditahan Jaksa
‎PERTINA Bengkalis Akan Gelar Pertandingan Tinju Di Lapangan Tugu
Terkait Tenggelamnya Siswa Kelas IV SDN I Abung Jayo
6 Orang Bakar Lahan Di Tahan Polres Bengkalis
Pernyataan Keseriusan Ketua DPRD Riau Eet
Polsek Kampar Kiri Hilir Amankan 4 Pelaku Judi Domino
Komunitas BKI Lampung Gelar Silaturahmi Di Kota Bumi
KNPI Bengkalis Gelar Pleno Persiapan Musda
Kapolres Bengkalis; Karhula Di Rupat Utara Kini Tinggal Pedinginan
Daerah
Keluh Kesah Rianti Untuk menghidupi Keluarganya
Rianti Janda Tiga Anak, Berharap Perhatian Dari Pihak Pemerintah

Selasa, 10/12/2019 - 07:48:34 WIB
Rianti bersama salah satu anaknya saat mengumpulkan brondolan sawit***
 
LABURA, (Mediatransnews) - Warga Desa Tubiran Kecamatan Marbau Kabupaten Labuhan Batu Utara ( Labura ) Provinsi Sumatera Utara, Rianti (39), seorang janda beranak Tiga yang hidup dengan serba kekurangan alias di bawa garis kemiskinan.

Keseharian Rianti adalah mencari lidi sawit dan berondolan biji sawit milik tetangga atau masyarakat yang dikumpulkan satu per satu  kalau sudah terkumpul banyak lalu dijual kepada toke sawit atau kepada si pembeli.

Penghasilan Rianti per harinya terkadang hanya dapat Rp20.000.- hingga Rp30.000. Dari hasil inilah untuk menafkahi anak-anaknya walau sangat tidak cukup tapi dicukup-cukupkannya.

Sedihnya tidaklah setiap hari pula dapat mencari berondolan biji sawit, karena masyarakat di Desa Tubiran rata- rata memanen pohon sawitnya dua minggu sekali.

Dengan mengutip berondolan biji sawit inilah Rianti mendapatkan sesuap nasi untuk anak-anaknya yang sudah berjalan sejak dari kecil di tinggal ayahnya, karena meninggal dunia.

Sejak dari itulah Rianti memulai  mencari berondolan biji sawit untuk kebutuhan biaya makan sehari-hari dan sekolah anak-anaknya.

Saat awak media ini menemui Rianti pada Senin ( 09/12/2019), "mengatakan" bahwa tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, baik bantuan dari sekolah seperti KIP (Kartu Indonesia Pintar) untuk anaknya juga bantuan PKH (Program Keluarga Harapan) dan bantuan lain-lainnya dari pihak manapun.

Rianti pernah meminta dan bertanya kepada Suradi, selaku Kepala Dusun setempat. Namun saat ditanyakan kepada Kepala Dusun, ” pak  saya mau tanya, apakah saya memang tidak dapat bantuan PKH.” ungkapnya dengan wajah sedih.

Lantas dijawab Suradi, ” kamu tidak dapat bantuan PKH, karena kamu ikut orang tua.” Begitu jawab Suradi, sementara ibu orang tua Rianti yang dimaksud adalah juga seorang janda. Dengan polosnya Rianti pun pasrah dan sedih dengan ucapan Suradi (Kepala Dusun).

Dalam hal ini, Herianto selaku Kepala Desa di Desa Tubiran pun tidak mau tahu dengan keadaan Rianti yang kehidupannya sangat  memprihatinkan. Tutup mata dan telinga, seakan-akan  Herianto tidak pernah tahu kalau ada warganya seperti Rianti yang seharusnya mendapat perhatian pemerintah untuk dibantu.

Rianti juga tidak memiliki rumah, seorang janda yang tinggal bersama seorang ibu yang juga janda, karena ayah Rianti sudah lama meninggal.

Sangat miris nasib kedua orang ibu janda ini, Rianti serta anak-anaknya dan ibunya yang statusnya sama-sama janda, tinggal satu rumah tidak pernah dapat bantuan sejenis apapun dari pemerintah.

Hal ini terkesan, bahwa selama ini pemerintah hanya memberikan bantuan dengan cara tembang pilih, masyarakat yang semestinya dapat tetapi tidak mendapatkan.

Kini Rianti tidak mendapatkan hak yang semestinya harus diterimanya. Mungkin inilah yang dinamakan bantuan tidak tepat sasaran, yang kaya dapat yang miskin makin melarat, akibat ketidak adilan para oknum Aparat Desa setempat***

Laporan : Suryani Isur





() Komentar

[ Kirim Komentar ]
Nama
Email
Komentar



(*Masukkan 6 kode diatas)

Redaksi | Advertorial
PEDOMAN MEDIA CYBER
Copyright 2013 - 2017 PT. Noah Mifaery Pers, All Rights Reserved