Follow:     Serikat Perusahaan Pers
Senin, 03 08 2020
INDEX BERITA

Muscab III DPC HIMNI Kab. Siak Akan Di Gelar September 2020
Gugatan Morlan S, Kandas Di PTUN Pekanbaru
Polsek Siak Hulu Kampar Amankan Pelaku Penggelapan Sepeda Motor
Ketum IKNR Apresiasi Kinerja Polsek Bukit Raya Pekanbaru
Pengeroyoan Sadis Terhadap FR Bu,ulölö, Anton Lepok Menyerahkan Diri Melalui Ketum IKNR
IKNR: Minta Aparat Kepolisian Tangkap Pelaku Pengeroyokan Secara Brutal
Tak Terima Istrinya Di Beritakan, Syamsurizal Caci Maki Oknum Wartawan
PT. Agro Abadi Abaikan Perbup Terkait Upah Bongkar TBS
Istri AM Bupati Bengkalis Non Aktif Diduga Terima Uang Gratifikasi Rp23,6 M
Warga Meminta Pemilik Warung Remang -Remang Ditutup
Hendra Oknum PNS Di Kab. Siak Diduga Tipu BRM Senilai Rp124 Juta
DPW MOI Riau Resmi Serahkan Surat Audenci Di DPRD Kota Pekanbaru
Terkait Dana Publikasi Media, DPW MOI Riau Akan Surati DPRD Kota Pekabaru
DPW MOI Riau: Minta Wako Dan DPRD Pekanbaru Copot Badria Rikasari Dari Plt Sekwan
Miliaran Dana Publikasi Media Di DPRD Kota Pekanbaru Diduga Ajang Korupsi
Menkuham Yasona Laoly Berhasil Bawa Pulang Maria Pauline Ke Indonesia
Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kampar Sesali Sikap Pemda Kampar
Yan Prana Jaya, Mantan Kepala Bappeda Siak Yang Kini Menjabat Sekdaprov Riau Diperiksa Di Kejati Ria
LSM IPPH, Minta Pihak Dinas Terkait Dan Sekolah Transparan
Gampangnya Pihak Disdik Dan Sekolah Merespon Surat Keterangan Domisili Dan Miskin
Masrianto Muis: Minta Kepada Pihak PT. Indomarco Agar Diterima Pekerja Bongkar Muat
Bagian Betis VL Memar Dan Membiru Dan RM Luka Di Luntut
Muflihun, Devenitif Sebagai Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Riau
Bupati Kampar Tabur 100.000 Ekor Benih Ikan
RDP Komisi II DPRD Kampar Bersama Lima Puluh Kepala Desa
Daerah
Keluh Kesah Rianti Untuk menghidupi Keluarganya
Rianti Janda Tiga Anak, Berharap Perhatian Dari Pihak Pemerintah

Selasa, 10/12/2019 - 07:48:34 WIB
Rianti bersama salah satu anaknya saat mengumpulkan brondolan sawit***
 
LABURA, (Mediatransnews) - Warga Desa Tubiran Kecamatan Marbau Kabupaten Labuhan Batu Utara ( Labura ) Provinsi Sumatera Utara, Rianti (39), seorang janda beranak Tiga yang hidup dengan serba kekurangan alias di bawa garis kemiskinan.

Keseharian Rianti adalah mencari lidi sawit dan berondolan biji sawit milik tetangga atau masyarakat yang dikumpulkan satu per satu  kalau sudah terkumpul banyak lalu dijual kepada toke sawit atau kepada si pembeli.

Penghasilan Rianti per harinya terkadang hanya dapat Rp20.000.- hingga Rp30.000. Dari hasil inilah untuk menafkahi anak-anaknya walau sangat tidak cukup tapi dicukup-cukupkannya.

Sedihnya tidaklah setiap hari pula dapat mencari berondolan biji sawit, karena masyarakat di Desa Tubiran rata- rata memanen pohon sawitnya dua minggu sekali.

Dengan mengutip berondolan biji sawit inilah Rianti mendapatkan sesuap nasi untuk anak-anaknya yang sudah berjalan sejak dari kecil di tinggal ayahnya, karena meninggal dunia.

Sejak dari itulah Rianti memulai  mencari berondolan biji sawit untuk kebutuhan biaya makan sehari-hari dan sekolah anak-anaknya.

Saat awak media ini menemui Rianti pada Senin ( 09/12/2019), "mengatakan" bahwa tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, baik bantuan dari sekolah seperti KIP (Kartu Indonesia Pintar) untuk anaknya juga bantuan PKH (Program Keluarga Harapan) dan bantuan lain-lainnya dari pihak manapun.

Rianti pernah meminta dan bertanya kepada Suradi, selaku Kepala Dusun setempat. Namun saat ditanyakan kepada Kepala Dusun, ” pak  saya mau tanya, apakah saya memang tidak dapat bantuan PKH.” ungkapnya dengan wajah sedih.

Lantas dijawab Suradi, ” kamu tidak dapat bantuan PKH, karena kamu ikut orang tua.” Begitu jawab Suradi, sementara ibu orang tua Rianti yang dimaksud adalah juga seorang janda. Dengan polosnya Rianti pun pasrah dan sedih dengan ucapan Suradi (Kepala Dusun).

Dalam hal ini, Herianto selaku Kepala Desa di Desa Tubiran pun tidak mau tahu dengan keadaan Rianti yang kehidupannya sangat  memprihatinkan. Tutup mata dan telinga, seakan-akan  Herianto tidak pernah tahu kalau ada warganya seperti Rianti yang seharusnya mendapat perhatian pemerintah untuk dibantu.

Rianti juga tidak memiliki rumah, seorang janda yang tinggal bersama seorang ibu yang juga janda, karena ayah Rianti sudah lama meninggal.

Sangat miris nasib kedua orang ibu janda ini, Rianti serta anak-anaknya dan ibunya yang statusnya sama-sama janda, tinggal satu rumah tidak pernah dapat bantuan sejenis apapun dari pemerintah.

Hal ini terkesan, bahwa selama ini pemerintah hanya memberikan bantuan dengan cara tembang pilih, masyarakat yang semestinya dapat tetapi tidak mendapatkan.

Kini Rianti tidak mendapatkan hak yang semestinya harus diterimanya. Mungkin inilah yang dinamakan bantuan tidak tepat sasaran, yang kaya dapat yang miskin makin melarat, akibat ketidak adilan para oknum Aparat Desa setempat***

Laporan : Suryani Isur





Komentar Anda :
Redaksi | Advertorial
PEDOMAN MEDIA CYBER
Copyright 2013 - 2020 PT. Noah Mifaery Pers, All Rights Reserved