Follow:     Serikat Perusahaan Pers
Sabtu, 23 Februari 2019
INDEX BERITA

Seorang Pria Nekat Lompat Dari Atap Gedung Hingga Tewas
Akibat Jalan Rusak, Kenderaan Sulit Untuk Melintas
Wabup H. Syamsuddin Uti Hadiri Haul Syekh Abdul Qodir Jailani
Harapan Bupati Inhil Kepada Gubernur Dan Wakil Gubernur Riau
Tim Jumat Barokah Polda Banten Kunjungin Warga Sempu
Turnamen Bola Volly Cup Polres Rohul 2019 Resmi Dibuka
Rumah Deni Rinata wartawan Media Online dibobol Maling
Sosok Lelaki Bernisial AH Ditemukan Telah Tidak Bernyawa
Koramil 02 Tanah Putih Lakukan Giat Bersih Lingkungan
Babinsa Beri Penyuluhan Bahaya Narkoba di SMUN 12
Bupati Inhil Pimpin Rapat Penyelesaian Somasi Kredit Kelompok Tani Dengan BNI
TNI AL TLDM Gelar Patkor Malindo 143/19
HM Wardan Sangat Prihatinannya Melihat Yang Kena Musibah Kebakaran
Bupati Inhil Resmikan Gedung Baru PAUD Mutiara Hati Desa Sungai Ambat
Nahdlatul Ulama Membantu Yang Kena Musibah Banjir Di Kab.Way Kanan
Danrem 031/WB Hadiri Rapat Koordinasi TNI - POLRI Provinsi Riau
Kepala Sekolah SMP N 4 Siak Hulu Tuding Komite
Bupati Inhil Kenang Masa 1 Tahun Silam
Bupati Inhil Minta Masyarakat Bersabar
Polsek Buay Bahuga Amankan CW
Seorang Pelajar Tewas Gantung Diri Di Kamar Rumahnya
SMP Negri 4 Kec Siak Hulu Kab Kampar Pungut Rp 277.000 Persiswa
Bupati Inhil: Kami Serius Dan Fokus Cari Solusi Fluktuasi Harga Kelapa
Bupati Rokan Hulu H.Sukiman Janji Perjuangkan Beberapa Jembatan
Babinsa Koramil 06 Sukajadi Laksanakan Giat Sosialisasi Peduli Api
Daerah
Kekerasan Dalam Dunia Pendidikan Kembali Terjadi
Aniaya Siswi, Guru Merangkap Pj Kades Ouw Dipolisikan

Kamis, 31/01/2019 - 10:12:42 WIB
Yospina adalah salah satu guru SMP Negeri 7 Saparua Timur juga sebagai Pj Kades***
 
SAPARUA (MALUKU) -  Kekerasan dalam dunia pendidikan kembali terjadi, Penjabat Kepala Desa Ouw, Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) Yospina Kostantina Sapteno harus berurusan dengan pihak kepolisian.

Yospina adalah salah satu guru SMP Negeri 7 Saparua Timur dilaporkan oleh orang tua siswa, Martha Pelupessy, Kamis (24/01/2019) lantaran diduga melakukan penganiayaan kepada sejumlah siswa-siswi kelas IX SMP Negeri 7 Saparua Timur.

Salah satu korban yang dianiaya oleh Yospina ialah Madha Thisya Pelupessy anak dari Martha Pelupessy.

Martha menuturkan kepada media ini via telepon selulernya, pada rabu (30/01/2019) menjelaskan kejadian penganiayaan tersebut baru diketahui ketika anaknya Madha meminta minyak panas (minyak urut-red) dari dirinya untuk mengoles luka bekas cubitan yang ternyata bekas cubitan Yospina.

“Anak saya mengeluh sakit dan merasa demam sehingga dia minta minyak untuk gosok lukanya, lalu saya tanya itu kanapa, ternyata dia bilang itu dicubit guru Yospina karena tidak mengerjakan soal Matematika. Saya kaget juga kenapa guru bisa lakukan itu, bukannya guru hanya ditugaskan untuk mendidik,” kata Martha.

Martha menceritakan, kejadian penganiyaan yang terjadi pada Rabu 23 Januari 2019 sekitar Pukul 11.00 WIT itu kemudian dilaporkannya ke Polsek Saparua pada Kamis 24 Januari 2019 untuk ditindak lanjuti sesuai hukum yang berlaku.

Namun yang anehnya, laporan tersebut tak langsung diproses karena berbagai alasan, hingga pada Rabu, 31 Januari 2019, laporan itu baru diregistrasi oleh Polsek Saparua dengan Nomor STPL/05/01/2019/SPK, sk.

Tak hanya itu, kendati apa yang dilakukan oleh pelaku ini merupakan pelanggaran hukum, tapi anehnya, ada upaya intervensi dari pihak-pihak tertentu ntuk melindungi pelaku dari permasalahan ini, diantaranya Camat Saparua Timur Halid Pattisahusiwa dan Kepala UPTD Saparua Timur E M Saimima.

Hal ini terlihat, dengan kemunculan Camat di Kantor Polsek Saparua untuk mempertanyakan kejadian itu kepada korban dan keluarganya serta Kepala UPTD yang menyambangi pihak korban dirumahnya untuk meminta agar masalah ini dihentikan, sedangkan pelaku tak terlihat batang hidungnya.

Namun, intervensi dari Camat dan Kepala UPTD tak mengugurkan keseriusan keluarga korban untuk memproses masalah ini hingga ke meja hijau agar ada efek jerah bagi pelaku.

“Saya sebagai orang tua korban tidak terima apa yang dilakukan pelaku terhadap anak saya. Ini penganiayaan dan sangat bertolak belakang dengan tanggungjawabnya sebagai seorang guru yang seyogianya harus mendidik anak-anak, bukan melakukan penganiayaab. Anak kami ke sekolah untuk menuntut ilmu, bukan untuk dianiaya, dan kejadian ini akan kami tempuh proses hukum sampai selesai,” tegasnya.

Kepala sekolah SMP Negeri 7 Saparua Timur, Sarce Sopacua yang dikonfirmasi, Kamis (31/01/2019) terkait sikap arogan pelaku yang menganiaya para siswa-siswi di sekolah itu tak membantah dan membenarkan kejadian itu.

Sopacua juga menjelaskan bahwa pasca kejadian ini dirinya langsung melaporkan ke Kepala UPDT.

“Untuk kejadian itu, sudah saya lapor kejadian tersebut ke Kepala UPTD Saparua Timur, dan saya selaku penanggung jawab merasa malu atas kejadian tersebut. Semoga kedepan tidak ada lagi kejadian yang serupa di sekolah kami. Permasalahan hukum saya serahkan ke pihak berwajib saja,” ucap Sopacua.

Sedangkan, Kapolsek Saparua Kompol Fredi Djamal, Kamis (31/01/2019) ketika dihubungi mengaku telah menerima laporan dari Martha, tetapi kasusnya sudah dilimpahkan ke Polres Pulau Ambon & PP. Lease.

“Pak kasusnya dilimpahkan ke Polres Ambon di Unit PPA Polres Pulau Ambon,” kata Kapolsek.

Sementara itu, informasi yang diterima hasil penelusuran salah satu media dari salah satu sumber di Desa Ouw sangatlah mengejutkan, dimana sumber yang enggan namanya dipublikasikan ini membeberkan kejadian yang menimpah Madha Thisya Pelupessy bukanlah yang pertama tetapi sudah pernah terjadi kepada siswa yang lain, namun orang tua siswa takut untuk melaporkannya kepihak yang berwajib lantaran Yospina Sapteno saat ini menjabat sebagai Penjabat Kepala Desa di Negeri Ouw.

“Ini bukan pertama Pak, sudah pernah terjadi bahkan ada siswa yang ditampar hingga mulutnya berdarah, tapi orang tua siswa tak berani melaporkannya karena Yospina itu sekarang Penjabat Kepala Desa disini,” ungkap sumber.

Untuk diketahui, akibat tindakan penganiayaan ini, pelaku dapat dijerat dengan pasal 80 ayat 1 undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang berbunyi: ‘Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan, atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp72.000.000,- (tujuh puluh dua juta rupiah).(Alan)***



() Komentar

[ Kirim Komentar ]
Nama
Email
Komentar



(*Masukkan 6 kode diatas)

Redaksi | Advertorial
PEDOMAN MEDIA CYBER
Copyright 2013 - 2017 PT. Noah Mifaery Pers, All Rights Reserved