Follow:     Serikat Perusahaan Pers
Selasa, 19 Maret 2019
INDEX BERITA

Rapat Persiapan Kampar Tuan Rumah MTQ Tingkat Provinsi Riau
Pemkab Bengkalis Terima Piagam Penghargaan Nirwasita Tantra
Sekda Kampar Hadiri Pelantikan Bupati Siak
Muslimah Catur: Perlu Sinergi PKK Kabupaten Dan PKK Desa
Alfedri Resmi Dilantik Menjadi Bupati Siak Difinitif
Polres Kampar Ungkap Pengedar Narkoba Jenis Sabu
Pencuri Rantai Alat Berat Di Ringkus Jajaran Polsek Siak Hulu
Suami Instri Diduga Sengkokol Aniaya Pelajar Dibawah Umur
Taja Sosialisasi Empat Pilar Ke Masyarakat
Siak Prioritaskan Perbaikan Layanan Publik
Gubri H. Syamsuar Terima Audiensi Dewan Pendidikan Prov Riau
Wakil Bupati Inhil Hadiri Pekan Panutan
Sekda Inhil Sambangi Ditjen Daglu Kemendag RI
DPRD Kab. Way Kanan Lakukan Hearing Internal Dengan Dua Perusahaan
Muslimawati Catur Kunjungi UP2K Desa
Babinsa Koramil 02 Rambah Bersama Polres Rohul Seleksi Calon Paskibra Rohul
Wagubri Sidak Se Badan Penghubung Provinsi Riau
Wabup Inhil Buka Musrenbang RKPD Kabupaten Inhil Tahun 2020
Wagubri Hadiri Rakornas Investasi Tahun 2019 Di Jakarta
Fakir Miskin Di Kabupaten Pelalawan Dapat Teratasi
Bupati Inhil Sambut Kedatangan Kepala BPKP Riau
Muslimawati: Majukan PKK Desa Seluruh Komponen Desa Menyatu
Sekda Kampar Hadiri Rakornas Bersama Bawaslu RI
Pemkab Bengkalis Siap Dukung Riau Bersatu
Sekda, Kedepan Jangan Sampai Sulit Mencari Lahan Pekuburan
Nasional
Pembukaan Kongres XXIV PWI
Presiden: Perangi "Hoax" Berita Palsu Dan Kabar Bohong

Sabtu, 29/09/2018 - 07:47:46 WIB
Presiden Joko Widodo saat sambutan ketika pembukaan Kongres XXIV Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Surakarta pada Jumat malam (28/9/2018).(Foto: Merahputihpos.com/Istimewa)***
 
SURAKARTA - Presiden Joko Widodo saat pembukaan Kongres XXIV Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengajak wartawan untuk memerangi munculnya "hoax", berita palsu, dan kabar bohong yang memanfaatkan ruang kebebasan dan demokrasi.

"Tidak hanya di negara kita, di negara-negara lain juga sama. Saya ke Singapura, PM Lee mengeluhkan hal yang sama. Ke Malaysia, mengeluhkan hal yang sama. Ke Timur Tengah, beberapa syeikh dan emir juga mengeluhkan hal yang sama yang sebelumnya tidak pernah terjadi," kata Presiden saat membuka acara yang diselenggarakan di The Sunan Hotel, Surakarta, Jumat (28/9/2018).

Menurut Presiden, penyebaran kabar-kabar itu cenderung dilakukan melalui media yang tidak terdaftar atau tidak jelas penanggung jawabnya dan alamatnya.

Hoax juga kerap disebar berantai melalui media sosial maupun aplikasi diskusi seperti grup WhatsApp agar bisa mempengaruhi persepsi massa bahwa informasi yang disampaikan berstatus benar.

"Tentu saja di balik penyebaran hoaks itu ada modus kepentingan-kepentingan tertentu, utamanya ini kepentingan politik yang sangat kuat, untuk mempengaruhi persepsi pembaca sehingga sesuai dengan tujuan kepentingan itu, sesuai dengan kepentingan politiknya," ujar Jokowi dalam keterangan dari Deputi Protokol, Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin.

Presiden menilai PWI dan media berperan penting untuk memberikan informasi yang benar. Banyaknya kabar palsu yang beredar menjadi peluang untuk menunjukkan betapa pentingnya media memberikan informasi yang nyata.

"Dan saat-saat seperti ini kita semakin membutuhkan penyajian informasi berita berkualitas karena terlalu banyak berita yang tidak jelas juntrungnya. Tentu saja yang sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalisme. Ini adalah kesempatan bagi media untuk membuktikan kepada rakyat bahwa media merupakan sumber informasi yang kredibel dan berkualitas," kata Presiden.

Kepala Negara menambahkan Indonesia membutuhkan wartawan-wartawan yang berdedikasi tinggi, dan bermartabat, serta dapat menjaga etika profesi, dan berkesadaran tinggi bahwa satu artikel dari dirinya turut menentukan persepsi publik serta menentukan masa depan Indonesia.

Wartawan juga harus terikat pada Undang-Undang Pers dan kode etik untuk menguji informasi itu menjadi rumah penjernih informasi (clearing house of information), tambah Jokowi.

"Karena itu sahabat-sahabat saya para wartawan, marilah kita menyadari bersama bahwa kekuatan besar yang dimiliki itu perlu disertai dengan tanggung jawab yang besar untuk menjaga kehidupan bangsa dan negara yang kita cintai ini, negara Indonesia," kata Kepala Negara.

Selain itu, pendidikan literasi media kepada masyarakat penting dilakukan sehingga masyarakat memiliki budaya mengonsumsi media secara sehat dan memiliki daya tangkap dalam menghadapi berita-berita hoax, serta mampu memilih dan memilah informasi yang datang kepada masyarakat.

"Media dan wartawan harus menjadi 'communicating of hope'. Itulah jati diri wartawan, mengkritik, memberikan masukan, dan memberikan harapan. Kembalikan tugas media untuk searching the truth, bukan ikut-ikutan menciptakan disorientasi nilai-nilai," kata Presiden.

Presiden juga menilai tantangan bagi PWI semakin besar serta memiliki peran yang makin penting dalam memberikan panduan agar media bisa membedakan antara kabar substansi dan kabar sensasi, serta informasi yang benar dan yang salah, maupun berita yang asli dan yang palsu, ataupun antara ujaran kebenaran dan ujaran kebencian.(Rls/Yus)***



() Komentar

[ Kirim Komentar ]
Nama
Email
Komentar



(*Masukkan 6 kode diatas)

Redaksi | Advertorial
PEDOMAN MEDIA CYBER
Copyright 2013 - 2017 PT. Noah Mifaery Pers, All Rights Reserved